Konflik Islam Modern dan Tradisional Di Indonesia

7 04 2008

(SUATU ANALISIS HISTORIS DESKRIPTIS)

PENDAHULUAN
Pluralisme agama menghadapkan kita pada dua tantangan sekaligus, yakni teologis dan sosiologis. Secara teologis, kita dihadapkan pada tantangan iman: bagaimana mendefinisikan iman kita ditengah keragaman iman yang lainnya? Begitu pula secara sosiologis, kitapun dihadapkan pada sejumlah fakta sosial: bagaimanakah hubungan antar umat beragama, lebih khusus lagi hubungan antar iman ditengah pluralisme agama?

Fakta sosial secara jelas menyadarkan kita bahwasannya pluralisme agama belumlah berkorelasi positif dengan harmoni agama. Justru fakta berbicara sebaliknya: pluralisme agama seringkali menjadi pemicu konflik sosial dan sentimen keagamaan. Mengapa demikian? Banyak faktor yang bisa menjelaskan. Salah satunya adalah masih kuatnya “Hambatan Teologis” di kalangan umat beragama untuk menerima kehadiran pluralisme agama sebagai hukum Tuhan. Maka, alih-alih bersikap toleran, inklusif, dan pluralis, umat beragama justru semakin mengeras kearah sikap intoleran, eksklusif dan cenderung antipluralisme. Untuk itu, agenda awal kita adalah begaimana memecahkan “hambatan teologis” dikalangan umat beragama dalam menerima kehadiran pluralisme sebagai hukum Tuhan.

LATAR BELAKANG MASALAH
Muhammadiyah dan NU merupakan dua organisasi terbesar yang ada di Negeri ini. Pengaruh dari kedua organisasi ini amat terasa ditengah masyarakat, meski berbeda massanya. Dakwah bil lisan maupun bil hal yang menjadi ciri khas kedua ormas keagamaan ini sudah sejak lahirnya diketahui masyarakat, bukan saja didalam negeri, tetapi juga di luar negeri.

Sebagai organisasi terbesar di Indonesia, ternyata antara Muhammadiyah dan NU memiliki beberapa perbedaan mendasar, baik dalam teologi, visi politik maupun perbedaan yang bersifat umum, dalam hal ini perbedaan sumber daya dan infrastruktur yang kemudian berpengaruh pada jalannya kedua organisasi tersebut kurang berimbang. Perbedaan-perbedaan yang ada mengakibatkan antara Muhammadiyah dan NU memiliki jarak mencolok, menjadikan kedua organisasi ini jurang pemisahnya terlalu lebar. Akibatnya, tidak produktifnya bagi perkembangan wacana kebangsaan maupun wacana keagamaan.

POKOK MASALAH
Keberadaan Muhammadiyah dan NU (Nahdlatul Ulama) dalam sejarah Indonesia modern memang amat menarik. Sepanjang perjalanan kedua organisasi Islam terbesar ini, senantiasa diwarnai koorporasi, kompetisi, sekaligus konfrontasi. Membicarakan Muhammadiyah dan NU di Indonesia selalu melibatkan harapan dan kekhawatiran lama yang mencekam, karena wilayah pembahasan ini penuh romantisme masa lalu yang sarat emosi dan sentimen historis yang amat sensitif. Sekedar contoh, Sering dinyatakan, kelahiran NU tahun 1926 merupakan reaksi defensif atas berbagai aktivitas kelompok reformis, Muhammadiyah (dan Serekat Islam), meski bukan satu-satunya alasan.

TINJAUAN TEORITIS
Penelitian banyak mengemukakan, Muhammadiyah identik organisasi Islam yang mencontoh gerakan misi dan zending barat. Berhubung Muhammadiyah mencontoh gerakan misi dan Zending Barat, maka menurut para pengamat, gerakan-gerakan yang dilakukan merupakan gerakan yang bercorak Barat, seperti mendirikan sekolah, panti asuhan dan rumah sakit (James Peacock, 1981; Mitsuo Nakamura, 1980; Lance Castles, 1982; Alfian, 1984; Mulkhan, 2000; Asy,arie, 1998; Bruinessen, 1994; Hikam, 1999; Pendekatan Hegelian: (1). Lebih menekankan fungsi komplementatif daripada fungsi suplementatif, (2). Menekankan pentingnya kelas menengah.; Pendekatan Alexis de Tocqueville: Menekankan fungsi civil society sebagai counter balancing terhadap negara, dengan melakukan penguatan organisasi-organisasi independen di masyarakat dan pencangkokan civic culture untuk membangun budaya demokratis.

KONFLIK ISLAM MODERN DAN ISLAM TRADISIONAL DI INDONESIA
Dialektika Muhammadiyah dan NU dalam sejarah politik Islam di Indonesia, dapat dirunut, paling tidak, sejak lahir tahun 1930-an, melalui MIAI (Majelis Islam A,la Indonesia), sebuah federasi untuk membina kerja sama berbagai organisasi Islam. Kompetisi dan konstelasi kedua tradisi Islam ini, sepanjang Orde Lama dan Orde Baru, tampak dari rivalitas keduanya dalam Masyumi sepanjang tahun 1945-1952 dan di PPP sepanjang tahun 1973-1984, respon terhadap Demokrasi Terpimpin dan Nasakom, serta respons terhadap rezim Orba. Belum lagi persaingan dalam memperebutkan berbagai jabatan politik. Karena itu, dapat dimengerti bila persaingan ini pada akhirnya juga merambah bidang lain, termasuk pendekatan dalam mengembangkan civil society.

Antagonisme politik yang terjadi antara Islam modernis dengan pemerintah yang berlangsung sejak tahun 1960 (ketika Masyumi dipaksa membubarkan diri oleh Presiden Soekarno), membuat kalangan modernis mencoba mencari landasan teologis baru guna berpartisipasi dalam “develomentalisme” Orba. Tahun 1971, dalam Muktamar di Ujung Pandang, Muhammadiyah menyatakan tidak berafiliasi terhadap salah satu partai politik manapun. Hal ini hampir bersamaan dengan wacana yang dikembangkan generasi baru intelektual Islam, yang sejak dasawarsa 1970-an berusaha mengembangkan format politik baru yang lebih menekankan aspek substansial. Motivasi kalangan modernis agar bisa terakomodasi dalam proses pembangunan Orba seperti ini menyebabkan mereka mengembangkan civil society dengan pendekatan Hegelian, yang memiliki ciri (1) lebih menekankan fungsi komplementatif dan suplementatif. Dengan cirri seperti ini, sipil society berfungsi melaksanakan sebagian peran-peran negara. (2) Menekankan pentingnya kelas menengah. Tentu saja kelas menengah yang sedikit banyak bergantung kepada state. Karena sebagaimana lazimnya negara dunia ketiga yang sedang berkembang, state memegang peranan penting dalam seluruh sektor kehidupan.

Pendekatan Hegelian seperti diadopsi oleh Muhammadiyah ini, mendapat kritik tajam dari Alexis de Tocqueville. Ini disebabkan, karena dalam pemikiran Hegel, posisi negara dianggap sebagai standar terakhir. Seolah-olah, hanya pada dataran negara sajalah politik bisa berlangsung secara murni dan utuh, sehingga posisi dominan negara bermakna positif. Dengan demikian civil society akan kehilangan dimensi politik dan tergantung manipulasi dan intervensi negara. Pendekatan Tocquevellian yang diadopsi NU, menekankan fungsi civil society sebagai counter balancing terhadap negara, dengan melakukan penguatan organisasi-organisasi independen di masyarakat dan pencangkokkan civic culture untuk membangun budaya demokratis. Pendekatan Tocquevellian ini digunakan karena sepanjang dua dasawarsa awal Orba, NU tidak memperoleh tempat dalam proses-proses politik. Marginalisasi politik ini, disebabkan karena rezim Orba hanya mengakomodasi kelompok Islam yang mendukung modernisasi, dan itu didapat dari kalangan modernis yang sudah lebih dulu melakukan pembaruan pemikiran politik Islam. Selain itu, tentu saja, akibat rivalitas dengan kalangan modernis yang menjadi kelompok dominan di PPP. Dengan demikian, dapat dimengerti jika sejak muktamar 1984 di Situbondo, NU menyatakan kembali khitah 1926, dan mengundurkan diri dari politik praktis, yang secara otomatis menarik dukungan dari PPP.

Dengan motivasi seperti itu, maka sejak akhir dasawarsa 1980-an, aktivis NU banyak diarahkan pada penciptaan free public sphere, tempat dimana transaksi komunikasi bisa dilakukan warga masyarakat secara bebas dan terbuka. Upaya ini dilakukan dengan cara advokasi masyarakat kelas bawah, dan penguatan LSM. Mereka meyakini, civil society hanya bisa dibangun jika masyarakat memiliki kemandirian dalam arti seutuhnya, serta terhindar dari jaring intervensi dan kooptasi negara. Hal ini dapat dibuktikan dengan mengamati kiprah NU sejak awal dasawarsa 1990-an. Ketika kalangan Islam modernis terakomodasi dlam state (ICMI), Gus Dur mendirikan forum demokrasi, dan aktivitas NU secara umum diarahkan untuk menciptakan ruang publik diluar state dengan banyak bergerak dalam LSM-LSM dan kelompok-kelompok studi. Inilah peran Gus Dur dan NU sebagai kekuatan penyeimbang dan berhadapan vis-à-vis negara. Mereka ini pada awalnya menjadikan Islam modernis yang terakomodasi dalam state sebagai lahan kritik (Hikam:1999). Bagi mereka, modernisme tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya sumber gagasan kemajuan dan dipuja sebagai dewa penyelamat bagi peradaban manusia. Karena modernisme itu sendiri terbukti tidak mampu memenuhi janji-janji kemajuannya. Bahkan, dalam beberapa hal, modernisme meninggalkan banyak petaka.

Kesimpulan
Konflik yang semakin mengental antara Islam modern (Muhammadiyah) dengan Islam tradisional (Nahdatul Umat) dengan puncak klimaksnya ketika K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terpilih sebagai Presiden RI ke-4, maka emosi politikpun menyusup kedalam gerakan kultural kedua Ormas tersebut. Dimana sebenarnya perbedaan pemikiran kedua ormas itu tidaklah terlalu jauh, karena secara subtantif, kedua aktivis ormas terbesar itu mempunyai titik temu dalam aras mengusung wacana baru yang menyemangati transformasi, inklusivitas, dan progresivitas.

Sejarah membuktikan, perseteruan politik kerapkali meruntuhkan singgasana kultural yang mempunyai komitmen untuk membangun civil society. Hal tersebut dapat dilihat dari retaknya hubungan antara Gus Dur (tokoh NU) dan Amien Rais (Tokoh Muhammadiyah), karena keduanya sedang bertarung dalam domain politik yang implikasinya sangat besar terhadap bangunan kultural yang berkecambah dalam kedua ormas tersebut. Oleh karena itu, harapan besar berada diatas pundak aktivis muda NU dan Muhammadiyah untuk mewujudkan hubungan yang sinergis. Disinilah gerakan kultural dalam kedua ormas tersebut dipertaruhkan.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Misrawi, Zuhairi, “Mencari Konvergensi Aktivis NU dan Muhammadiyah”. Jakarta : Artikel Kompas, 6 Juli 2001.

Qodir, Zuly,. “Mempersempit Jarak Muhammdiyah dan NU”. Jakarta : Artikel Kompas, 6 Juli 2001.

U. Tanthowi, Pramono, “Muhammadiyah dan NU dalam Kompetisi Makna Civil Society”. Jakarta : Artikel Kompas, 6 Juli 2001.

Sukidi,. “Tinjauan Islam atas Pluralisme Agama”. Jakarta: Artikel Kompas, 17 Juni 2001.


Actions

Information

4 responses

8 04 2008
masyeye

bergesernya posisi dalam menganggap Allah sebagai tuhan itulah yang membuat keduanya jadi renggang,
Harga diri seorang Gus dur yang diposisikan oleh Gus Dur sendiri maupun pengikutnya melebihi Allah maupun Rasulnya. Disini terjadi overlapping. kebawahnya akan terus begitu. Solusinya tempatkan sesuatu pada tempatnya. sehingga pas. itu menurut saya.

13 11 2008
ustadz crisis centre

Islam klasik dan Modern(al Quran komik & al Quran to’,/muslim onta&BMW)sudah terjadi sejak zaman ajali, tepatnya ketika malaikat Azazil (belakangan dikenal sbg Iblis AS) yg menolak habis2an perintah Allah untuk sujud kepada Adam AS. Saat itu malaikat azazil memanfaatkan ‘aqlnya untuk menafsirkan perintah Allah dengan cara yg berbeda dgn malaikat lainnya.
Maka Tidak Fair bila kita menempatkan kedua aliran ini dalam konteks subjektifitas, karena siapapun dapat melahirkan Islam klasik, Country, Rock, bahkan dangdut sekalipun. Yang dapat kita lakukan untuk mencapai kebijaksanaan(al ‘ilm falsafat)adalah dengan memposisikan keduanya sebagai pemahaman atas teks2 sejarah yang berbeda.
OKlah kita akan berbicara kekinian, dimana NU(Nanya Ulama)&Muhammadiyah(ke-Muhammad-an)selalu menjadi pelaku&objek penderita atas 2 aliran Islam tsb.
NU yg dideklarasikan oleh Kakeknya Gus Dur(Hasjim Asy’ari) di Jombang merupakan Ormas Islam terbesar di Indonesia setelah Islam itu sendiri, NU menyatakan bahwa umat Islam (wkt itu zaman penjajahan) harus bersatu, tidak boleh digoyahkan(oleh isu adudomba&hadist palsu), tentunya dibawah kepemimpinan para Ulama. sdngkn Muhammadiyah didirikan di Bukittinggi(Ahmad Dahlan) sbg organisasi yg bergerak di bidang pendidikan(IPTEK).
Perkembangan yang dianggap sbg konflik keduanya terjadi beberapa puluh tahun kemudian,yaitu ketika oknum NU dianggap mengkultuskan Ulama(tentu ulama mereka yg dianggap”tekstual”)dan oknum Muhammadiyah yg dianggap mengkultuskan rasio(kontekstual), tapi sampai hari ini tidak ada sejarah yg menginfokan bahwa mereka bertentangan secara organisasi. Tentu saja tidak akan karena jika terjadi, tidak mustahil akan ada SKB 3menteri spt yg dialami Ahmadiyah.
maksudnya adalah secara kelembagaan mereka berdua tidak ada masalah besar yg dapat menimbulkan pengkafiran dsb. walau meski, spt yg Anda tahu, DEPAG selalu diisi oleh kaum NU & DIKNAS oleh muhammadiyah, tapi ini hanya sebatas proyek2(tender) ke teman saja. hari ini bahkan kita tahu banyak anak2 IPNU yang aktif dalam JIL dan anak Muhammadiyah yg masuk ke dalam IPNU, sah2 saja.
GusDur adalah salah 1 bukti pencampuran antara ciri NU & Muhammadiyah. kita tahu bahwa sbg pentolan NU, GusDur disuap pendidikan “ala islam”&Barat, hal ini tentu membuatnya jadi bijaksana dan cerdik. di satu sisi kita lihat dia sangat dekat dengan Rakyat, sisi lainnya kita lihat dia makan malam dengan para jendral pembantai Rakyat dan Pastur2. Ia dikenal sbg pembela Islam, KongHucu juga. Ulamanya para Ulama, Islam Yes, Ahmadiyah OK, Kristian Yuk Mantap, termasuk Islam dari Gn.Bunder, pokonya semua Yes & tdk ada masalah). apakah hal ini salah & bertentangan dengan ciri khas NU??? Tentu tidak!!! spt saya kutip diatas, NU berdiri untuk keBERSATUan rakyat, dibawah kepemimpinan,nasihat&bimbingan dari para Ulama, isu Nasionalisme adalah isu penting dalam tubuh NU dari zaman Akinya GusDur, maka tidak heran&tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini kekuatan2 tsb lebih diperhitungkan sbg kekuatan politis ketimbang kebenaran ajaran Agama.
sedangkan gosip2 di luar itu hanya sebatas masalah individu mereka saja, antara pak amin & GusDur tidak lebih seperti pertentangan Ibu MegaKarti dan SBY dalam Rep.BBM, bukan isu2 kultural,ajaran/Fiqh spt yg dikemukakan biang gosip.

21 06 2009
andreas

saya mau bicara nih tentang gusdur,…
mungkin semua nya sudah tau watak dari gusdur…
lihat saja tingkahnya dalam berbicara asal ceplos2 saja gak pernah mghiraukan sesuatu yang akan terjadi atau konflik yang akan trjadi,…
bicara yang lancang dan sok seperti suci sendiri,…
dalam masalah agama sesat saja dia lindungi…
bicara soal wapres saja gusdur bilang gak ada yang baik cuma dia yang baik apa itu kesombongan yang mutlak dan tak berfikir jauh ya…
kata2 gusdur itu sangat menyakitkan gak ada tata aturan nya dalam berbicara…saya akui dia memang tokoh agama ,…tetapi apakah seorang tokoh agama itu harus berwatak seperti itu,…

gusdur harusnya membela yang lain membasmi ajaran sesat bukannya membelanya ,…bicaranya seharusnya jangan tinggi terus…bisa2 dibenci seluruh umat islam di indonesia lagi,…

saya bukan seorang tokoh agama ataupun penceramah akan tetapi saya punya hak untuk berbicara agar tercipta suatu keasrian dalam berbicara maupun berinteraksi antara umat islam ,..
harus mencerminkan sfat yang arif dan bijaksana,..

tolong agar dipahami untuk semua pembaca dan berbuat lah baik terhadap sesama muslim dan jangan membawa ajaran sesat lainnya,..

kalau anda ingin berkomentar soal tulisan saya ini koment lah ke saya,…

terima kasih…

wassalamualaikum wr.wb.

24 03 2010
masboedi

Komen kedua sebelumnya sangat pluralis dan liberalis, efek dari sikap tersebut memiliki tiga kemungkinan; mujtahid handal, murtad fanatik dan stress (gila). oleh karena itu solusinya harus snantiasa mengiringi dengan pencerahan yg ikhlas sehingga tidak banyak atau smakin berkurang umat yang ikut2an saja, karena banyak yang aqidahnya masih bercampur aduk dengan kemusrikan. oleh karenanya sangat kasihan pada masyarakat yang tak mampu mencerna jika meliat penampilan Gusdur, JIL ataupun Paramadina, sederetan nama2 keren yang membingungkan dan berpotensi tambah bodoh alias murtad (dengan iming2 imbalan pekerjaan/makanan) bagi yg aqidahnya lemah.

Sedang komen ketiga sebelumnya patut dipahami sebagai kekhawatiran jika yg disebut sebagai ulama, ustadz, atau mujtahid berperilaku sangat aneh dan membingungkan umat atau pengikut.

Langkah terbaik adalah memilah sikap mana yang pantas ditampilkan didepan umat dan mana pula yang belum tepat ditampilkan (sebagaimana sikap Gusdur yang dibabtis di senayan oleh Pendeta dari Amerika?) walaupun bukan itu maksud dari kedatangan Gusdur di arena kebaktian kistiani di senayan. tapi apakah masyarakat tahu maksud sesungguhnya dari Gusdur. Jadi menonton Gusdur itu sama dengan jika kita menonton perilaku JIL dan testimoni JIL, jadi apakah anda, segala kemungkinan akan terbuka. Tetapi siapa ulama yang bertanggung-jawab jika masyarakat yang tidak paham hikmah menyaksikannya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: