Islam Tapi Mesra

30 01 2007

Malam itu, pentas kebudayaan yang digagas Acep Zamzam Noor di lingkungan Ponpes Cipasung Tasikmalaya, lain dari biasanya. Pentas yang kata Acep, bertujuan “mendekatkan pertunjukan seni kepada rakyat”, itu dihadiri puluhan tamu istimewa dari Jakarta. Mereka adalah pendeta dan calon pendeta dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) yang live in satu malam di ponpes ayahnya Acep, KH Ilyas Ruhiat.

Tak hanya menonton, lagu Sepanjang Jalan Cipasung, yang nada dan liriknya diadaptasi dari Sepanjang Jalan Kenangan didendangkan mereka. Kemesraan antar umat beragama begitu kental dalam acara itu.

Saatnya giliran Amang Hidayat tampil. Seniman Tasikmalaya berambut sepunggung itu mendendangkan lagu dengan lirik nama-nama Presiden RI. Kritikan dilancarkan dengan lugas. Aplaus dari ratusan penonton berhamburan. Seperti kebanyakan seniman, dandanan Amang bersahaja. Jins lusuh dengan kaos hitam. Namun ada yang menarik di kaos Amang. Sebaris tulisan putih: Islam Tapi Mesra.

Sejawat saya yang juga hadir dalam perhelatan itu menafsirkan, ”Itu sama saja, Islam itu gak mesra, galak.”

Yang ditakutkan teman saya jadi kenyataan. Saat evaluasi live in, salah satu calon pendeta ikut mengakui, “Saya sangat senang ikut acara ini. Di sini saya bisa menemukan Islam yang berwajah lain. Islam yang hangat dan terbuka kepada sesama”.

Kalau Islam yang ‘berwajah lain’ itu baru ditemukan sang calon pendeta di Cipasung, berarti yang sering dijumpainya, Islam yang mana?

Tengoklah berita terakhir. Kekerasan di Poso kembali meletus. Beritanya, para buron kerusuhan Poso sebelumnya melawan Polisi. Nahasnya –jika bisa dibilang demikian– para buron itu menyandang nama Islam. Walau bukan wajah yang sebenarnya, tapi Islam gak mesra memang kerap dijumpai di radio, televisi, halaman koran bahkan di jalanan. Hasilnya semua umat Islam dianggap tak mesra kepada sesama.

Untuk mengkampanyekan Islam yang mesra inilah Kementrian Luar Negeri RI berlelah-lelah mengirim 6 utusan ke London Inggris, 29-31 Januari 2007. Mereka, yaitu Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, dan dari kalangan cendekiawan, yaitu Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat, Zannubah Arifah Chafsoh alias Yenny Wahid dan Marwah Daud Ibrahim.

“Di Barat masih ada kerancuan pengertian yang menganggap pesantren dan madrasah sebagai sumber radikalisme,” aku Menlu Hassan Wirajuda seperti dikutip detik.com.

Tugas mereka di dalam negeri pun tak kalah beratnya dari yang di luar. Perlu keberanian untuk berhadapan langsung dengan kekerasan. Seperti Komunitas Azan pimpinan Acep Zamzam Noor dengan membuat kaos yang diadopsi dari hits Grup Ratu tadi, “dengan cara begini kita melawan kelompok Islam yang suka keras-keras itu,” kata Acep kepada saya. Mereka melawan kekerasan dengan kemesraan. Islam memang mesra kepada seluruh sekalian alam.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: